Medan Maggot Center (MMC) Gelar Pelatihan Budidaya Maggot sebagai Pakan Alternatif Peternakan Dan Perikanan.

Medan – Medan Maggot Center (MMC) dengan ahli maggot yg sudah ternama menyelenggarakan “Pelatihan Budidaya Magot sebagai Pakan Alternatif” pada 21-22 Agustus 2021.

Pakan merupakan komponen penting yang menjadi kunci untuk budidaya perikanan dan peternakan. Namun saat ini, tingginya harga pakan menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pengembangan budidaya perikanan.

“60-70 persen dari komponen biaya produksi diperuntukan untuk pakan. Untuk itu, Medan Maggot Center (MMC) mengembangkan magot untuk menjadi salah satu bahan pakan alternatif yang cukup terjangkau dan dapat dimanfaatkan,” ujar Kepala Medan Maggot Center (MMC) Yosia Tarigan.

Magot merupakan larva berprotein tinggi yang dikembangkan dari serangga black soldier fly (BSF). Magot mengandung hingga 41-42 persen protein kasar, 31-35 persen ekstrak eter, 14-15 abu, 4.18-5.1 persen kalsium, dan 0.60-0.63 fosfor dalam bentuk kering.

“Kandungan protein tinggi yang terkandung dalam magot ini dapat mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan sistem imun ternak,” jelas Yosia.

Tak hanya itu, produksi magot memiliki keunggulan tersendiri dengan prinsip produksi tanpa limbah (zero waste) yang diusungnya. Mampu mengolah sampah organik secara alami, magot dapat mendorong penyelamatan bumi dari masalah sampah yang mengancam lingkungan saat ini.

Dengan berbagai keunggulannya, saat ini produksi magot telah dikembangkan oleh 21 perusahaan di tanah air. Beberapa di antaranya Leles (Garut), Great Giant Pineaple (Lampung), Pt. Maggot Indonesia Lestari (Bogor), ACEL (Tangerang), Morodasdi Farn Srengat (Blitar), dan Kampung Lala (Banyumas). Meskipun begitu, usaha budidaya magot masih memiliki potensi yang besar, terutama dengan arah prioritas pemerintah untuk mengembangkan budidaya perikanan dan peternakan ke depan.

Untuk itu, Yosia Tarigan mendorong agar jajaran masyarakat luas terus mengembangkan budidaya magot di berbagai daerah. Ia mengarahkan agar tiap kawasan membangun pusat budidaya magot yang dilakukan secara berkelompok serta bekerjasama dengan Pemda setempat.

“Kenapa harus berkelompok? Karena harus ada kelompok masyarakat pengumpul sampah organik dari rumah tangga, pasar, dan sumber lainnya. Atau bisa bekerjasama dengan dengan pasar seperti yang sudah dilakukan oleh ibu Ratna dengan Pasar setempat saat ini. Ini adalah kerja kelompok,” tuturnya.

Bahkan, Yosia Tarigan mendorong agar budidaya magot menjadi gerakan nasional ke depannya. Sebagai langkah nyata, ia pun menugaskan para peserta pelatihan yang hadir dalam pelatihan kali ini untuk membuat perencanaan usaha budidaya magot di daerahnya masing-masing.

Ia meminta mereka untuk membuat empat model yakni konten magot, kawasan, pembentukan entitas/actor, dan analisa biaya untuk memastikan perputaran usaha ini. “Putaran bisnisnya harus bisa berputar terus secara rasional. Semua pelaku bisnisnya harus bisa hidup,” ucapnya.

Staf Dinas Tenaga Kerja yaitu Rama Doni atau yang dikenal dengan “Ramdon” selaku penyelenggara pelatihan berharap para peserta yang hadir dapat menjadi trainer untuk mengembangkan budidaya magot di daerahnya masing-masing.

“Saya ingin kita yang hadir di sini nantinya akan menjadi motor terdepan untuk melatih budidaya magot. Setiap Desa atau Kelurahan harus punya percontohan budidaya magot,” ujar Ramdon.

Salah satu aktifis pemerhati desa yaitu Rimbawanto mengatakan “Riset ini akan kita transformasi menjadi kurikulum dan modul yang ada di balai-balai yang nantinya bisa jadi pilihan pelatihan untuk teman-teman di Dinas Tenaga Kerja ataupun masyarakat yang membutuhkannya,” tambahnya.

Medan Maggot Center (MMC) selaku pengembang riset budidaya magot pun menyambut baik rencana pengembangan budidaya magot ini guna mendukung budidaya perikanan nasional.

“Magot ini merupakan pakan ikan alternatif yang telah berhasil kami kembangkan. Pemanfaatan sampah sisa yang terbuang menjadi sumber protein menjadi semangat kami untuk meneliti pengembangan budidaya magot,” jelas Yosia Tarigan

Ia menambahkan, pengembangan budidaya magot sejalan dengan rencana Presiden Joko Widodo untuk memanfaatkan sumber-sumber alami, tandasnya. Hal ini pun turut diaminkan oleh staf Dinas Tenaga Kerja Pemprovsu, Rama Doni.